Meski demikian, dengan ratusan TPA yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, risiko terjadinya kebakaran serupa seperti yang terjadi baru-baru ini sangatlah tinggi. Jika tidak ada tindakan pencegahan yang masif.
Diketahui, pemerintah memperkuat mitigasi menghadapi potensi El Nino dan musim kemarau tahun 2026. Upaya ini dilakukan untuk menjaga produksi pangan serta stabilitas inflasi daerah.
Hal itu dibahas dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Senin 29 Juni 2026 lalu. Forum tersebut diikuti kementerian/lembaga bersama kepala daerah seluruh Indonesia.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani mengatakan El Nino berpotensi memengaruhi kondisi iklim nasional. Menurutnya, pemerintah daerah perlu meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau panjang.
"El Nino dapat meningkatkan risiko kekeringan dan berdampak terhadap berbagai sektor. Antisipasi perlu dilakukan sejak awal agar dampaknya dapat dikurangi," katanya.
BMKG memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Agustus 2026. Pada periode itu, sebanyak 369 zona musim atau 48,84 persen wilayah Indonesia terdampak kemarau.
Sementara pada Juli 2026, terdapat 198 zona musim atau 31,60 persen wilayah mulai memasuki kemarau. Kemudian September tercatat 169 zona musim atau 25,41 persen masih mengalami kemarau. dilansir rri.co.id