CARAPANDANG - Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi melancarkan serangan udara terkoordinasi terhadap paramiliter Irak, Pasukan Mobilisasi Populer (Popular Mobilization Forces/PMF), pada Rabu (29/7) dini hari. Serangan tersebut menandai operasi militer gabungan yang jarang terjadi antara kedua negara dan secara tajam meningkatkan ketegangan di Timur Tengah.
Kalangan analis mengatakan bahwa serangan udara tersebut menandai perubahan signifikan dalam strategi keamanan regional Washington dan Riyadh, sekaligus memicu kekhawatiran bahwa meningkatnya ketegangan dengan Iran dan kelompok-kelompok sekutunya dapat menyeret kawasan itu ke dalam konflik yang lebih luas.
APA YANG TERJADI?
Serangan itu menyasar sejumlah markas PMF di beberapa provinsi di Irak, termasuk Baghdad, Basra dan Nineveh, menyebabkan sedikitnya 20 orang tewas dan 32 lainnya terluka, sebut pernyataan PMF.
PMF merupakan organisasi payung yang disponsori oleh negara di Irak. Pasukan ini terdiri dari puluhan faksi paramiliter yang secara resmi terintegrasi ke dalam angkatan bersenjata Irak setelah kampanye melawan kelompok ekstremis ISIS.