Ia juga mengenang bagaimana kecintaannya terhadap bahasa Inggris berawal dari seorang guru di madrasah ibtidaiyah yang mengenalkan pelajaran tersebut. Rasa ingin tahunya semakin besar ketika mengetahui adanya buku English from Radio Australia. Demi memperoleh buku itu, ia memberanikan diri menulis surat ke Australia hingga akhirnya buku tersebut dikirim dan menjadi teman belajarnya setiap hari.
Kemudian dari buku dan siaran Radio Australia itulah tumbuh mimpi untuk suatu hari dapat menempuh pendidikan di Australia. Mimpi itu terus dirawat melalui kebiasaan belajar, membaca, dan mengasah kemampuan bahasa Inggris sejak sekolah hingga perguruan tinggi.
Tak hanya itu, Mendikdasmen juga menuturkan jika mimpi harus dibangun di atas tiga bekal utama, yakni ilmu, doa, dan rasa percaya diri. "Kuncinya yang pertama adalah ilmu. Kemudian yang kedua adalah doa, terutama doa orang tua. Kemudian yang ketiga adalah percaya diri," tuturnya.
Ia juga mengisahkan perjalanan menuju cita-cita tidak selalu berjalan mulus dan pernah gagal memperoleh kesempatan melanjutkan studi di Inggris. Namun kegagalan itu tidak membuatnya berhenti. Ia kembali mengajar, terus belajar, dan meningkatkan kemampuan hingga akhirnya memperoleh beasiswa Pemerintah Australia untuk melanjutkan pendidikan magister.