Beranda Sejarah Sejarah "Menara Keheningan" Tempat Jenazah Para Zoroastrian Dibiarkan Untuk Disantap Burung

Sejarah "Menara Keheningan" Tempat Jenazah Para Zoroastrian Dibiarkan Untuk Disantap Burung

Praktik ini didasari keyakinan bahwa tanah dan api adalah unsur suci yang tidak boleh dinodai oleh jenazah yang dianggap tidak murni.

0
Tangkapan layar Menara Keheningan

CARAPANDANG - Di tengah beragamnya tradisi pemakaman di dunia, komunitas Zoroastrian memiliki cara yang sangat khas dalam memperlakukan jenazah. Mereka tidak mengubur atau membakar mayat, melainkan menempatkannya di atas struktur tinggi melingkar yang dikenal sebagai dakhma atau "Menara Keheningan" (Towers of Silence) yang nantinya, mayat-mayat tersenyum akan dimanakn oleh burung pemakan bangkai.

Praktik ini didasari keyakinan bahwa tanah dan api adalah unsur suci yang tidak boleh dinodai oleh jenazah yang dianggap tidak murni.

Dalam ajaran Zoroastrianisme, kematian dianggap sebagai kemasukan roh jahat yang membuat jenazah menjadi najis.

Keyakinan ini berakar pada pemikiran bahwa mayat dapat mengotori semua yang disentuhnya, terutama elemen-elemen suci seperti tanah dan api.

Penguburan dianggap akan mencemari tanah, sementara kremasi dipandang sebagai penodaan terhadap api yang keramat.

Konsekuensinya, mengangkat jenazah ke langit untuk dimakan burung pemakan bangkai secara historis menjadi satu-satunya pilihan yang dapat diterima secara teologis.

Dengan mengekspos jenazah di alam terbuka, umat Zoroastrian meyakini bahwa mereka tidak mencemari unsur-unsur ciptaan Tuhan yang suci.

Menara Keheningan umumnya dibangun sebagai struktur tanpa atap, berbentuk bundar, dengan dinding keliling dan satu pintu masuk. Tinggi dinding mencapai sekitar 3,96 meter dengan diameter menara bervariasi antara 25 hingga 91 meter, tergantung lokasi dan kebutuhan komunitas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here