Masalah mendasar pendidikan nasional kita hari ini bukan terletak pada kekurangan sekolah megah, tetapi adanya jurang ketimpangan yang masih menganga lebar. Laporan PISA 2022 dari OECD (2023) menunjukkan bahwa kemampuan literasi, matematika, dan sains anak-anak Indonesia masih berada di bawah rata-rata global. Ketimpangan ini kian terasa di daerah pelosok, tempat anak-anak harus belajar di bawah atap bocor, tembok yang mau roboh atau bertaruh nyawa menyeberangi sungai demi sampai ke sekolah.
Kekhawatiran kita bersama adalah jangan sampai SNT terjebak menjadi proyek etalase (policy symbolism), di permukaan tampak megah, tetapi berjarak dari realitas masyarakat sekitar. Hafid Abbas (2021) secara konsisten mengingatkan bahwa komitmen anggaran pendidikan semestinya diprioritaskan untuk menghapus diskriminasi dan membenahi sekolah-sekolah terbelakang, bukan sekadar memoles sebagian kecil sekolah model.
Mewujudkan lingkungan belajar yang ramah juga membutuhkan fondasi yang kokoh sejak dini. Riset ekonom penerima Nobel, James Heckman (2013), membuktikan bahwa investasi pendidikan dengan tingkat pengembalian (high return) tertinggi bagi pembangunan karakter dan kognitif anak justru berada pada jenjang usia dini dan sekolah dasar. Ketika jenjang SD luput dari ekosistem SNT, kita berisiko memperbaiki struktur di atas tanah yang fondasinya belum sepenuhnya stabil.
Solusi Humanis dan Berbasis Bukti (Evidence-Based)