CARAPANDANG - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan akar masalah maraknya perundungan (bullying) di lingkungan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Indonesia. Menurutnya, budaya senior yang menjadi pengajar menjadi salah satu pemicu utama terjadinya perundungan terhadap peserta didik yang lebih junior.
"Kalau kita di Indonesia tuh yang mengajar tuh biasanya bukan dosen, yang mengajar adalah kakak kelas (senior), makanya terjadi bullying-bullying itu ya begitu," ujar Budi saat ditemui di Kantor Kementerian Kesehatan, Kamis (3/9/2026).
Ia menjelaskan bahwa keterbatasan tenaga pengajar membuat peran tersebut diambil alih oleh senior. Hal ini, kata Menkes, tidak sesuai dengan standar pendidikan kedokteran internasional seperti yang diterapkan oleh Accreditation Council for Graduate Medical Education (ACGME) asal Amerika Serikat.
"Kalau kita lihat di ACGME enggak boleh, yang mengajar mesti Dokter Penanggung Jawab Pelayanan-nya (DPJP), mesti gurunya, mesti konsulennya. Bukan kakak kelas yang mengajar," tegas Budi.
Untuk menyiasati permasalahan ini, Kementerian Kesehatan resmi mengadopsi standar pendidikan kedokteran ACGME.
Langkah ini ditempuh agar kualitas pendidikan di rumah sakit Indonesia setara dengan standar global yang telah terbukti efektif di sejumlah negara seperti Jepang, Arab Saudi, dan Qatar.