CARAPANDANG - Wilayah Tepi Barat yang diduduki Israel tengah menghadapi krisis kemanusiaan terburuk sejak 1967. Peringatan tersebut disampaikan Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) yang dikutip Anadolu, Senin 26 Januari 2026.
Saat ini, militer Israel meningkatkan operasinya di kamp-kamp pengungsian terutama di wilayah utara Tepi Barat. Kepala UNRWA, Philippe Lazzarini, mengatakan sebanyak 33 ribu orang diusir dari kamp-kamp pengungsi setelah diluncurkannya operasi Iron Wall.
"Tentara Israel menghancurkan sebagian besar kamp pengungsian dan mengurangi peluang komunitas ini untuk pulih," ujarnya. Menurut Lazzarini, UNRWA akan terus membantu pengungsi Palestina yang telah terjerumus dalam kemiskinan mendalam.
Advertisement
"Mereka tidak memiliki alternatif untuk mendapatkan perawatan kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan yang layak," ucapnya. Meski begitu, Lazzarini mengatakan kemampuan UNRWA untuk membantu sangat bergantung pada dukungan politik dan keuangan negara-negara anggota PBB.
Sejak berlangsungnya genosida di Jalur Gaza pada Oktober 2023, Israel telah meningkatkan kekejamannya di wilayah Tepi Barat. Terutama melalui penggusuran dan penghancuran kamp-kamp pengungsian warga Palestina, serta perluasan permukiman untuk kaum Yahudi.
Advertisement
Pasukan Israel telah membantai 1.108 warga Palestina di Tepi Barat, termasuk di kota suci Jerusalem. Mereka juga telah menahan 21 ribu warga Palestina di sana.