Inggris dan Prancis akan memimpin misi militer internasional untuk memastikan kebebasan navigasi di Selat Hormuz segera setelah "kondisi memungkinkan," kata Perdana Menteri Inggris Keir Starmer pada Jumat (17/4).
Kebijakan ini berlaku menyusul kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon yang mulai berlaku Jumat dini hari waktu setempat.
Foto yang dirilis pada 21 Juli 2019 ini menunjukkan kapal tanker minyak Inggris "Stena Impero" dikelilingi oleh speedboat Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) Iran di Selat Hormuz, Iran. (Carapandang/Xinhua/ISNA/Morteza Akhoundi)
Harga minyak global melonjak 8 persen setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan ancaman blokade Selat Hormuz, dengan harga minyak mentah Brent mencapai 102 dolar AS (Rp1,7 juta) per barel, menurut data perdagangan.
Krisis harga energi di Uni Eropa (UE) belum akan berakhir dalam waktu dekat karena sekitar 8,5 persen impor gas alam cair (LNG) dan 40 persen bahan bakar jet dan diesel untuk kebutuhan UE melewati Selat Hormuz.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam pernyataannya pada Rabu (8/4/2026) menegaskan bahwa perjalanan aman melalui jalur vital energi dunia tersebut hanya dimungkinkan melalui koordinasi dengan militer Iran serta dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis yang ada.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa AS telah memenangkan perang melawan Iran dan mengusulkan agar Amerika Serikat yang berhak memungut tarif dari kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz pascakonflik.
Duta Besar Iran untuk Rusia Kazem Jalali mengatakan hak eksklusif untuk mengendalikan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz harus diserahkan sepenuhnya kepada negara-negara pesisir.