Presiden AS Donald Trump pada Jumat mengumumkan bahwa Rusia dan Ukraina sepakat melakukan gencatan senjata selama tiga hari dan pertukaran 1.000 tahanan.
Seorang pria mengamati sebuah bangunan tempat tinggal yang rusak setelah serangan drone dan rudal besar-besaran oleh Rusia, di Kiev, Ukraina, pada 9 Januari 2026. (Carapandang/Xinhua/Li Dongxu)
Seorang tentara yang dibebaskan dari penahanan dipindahkan ke sebuah rumah sakit untuk menjalani perawatan medis di Ukraina utara pada 11 April 2026. (Carapandang/Xinhua/Peter Druk)
Rusia menyebut serangan rudal Ukraina terhadap kota Bryansk sebagai kejahatan perang dan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional setelah serangan tersebut menimbulkan korban jiwa dan luka-luka di kalangan warga sipil.
Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN General Assembly/UNGA) pada Selasa (24/2) mengadopsi resolusi tentang krisis Ukraina, yang menyerukan "gencatan senjata segera dan tanpa syarat" serta "perdamaian yang komprehensif, adil, dan abadi."
Rusia akan terpaksa menggunakan senjata nuklir non-strategis jika Inggris dan Prancis memasok hulu ledak nuklir ke Ukraina, kata wakil kepala Dewan Keamanan Moskow, Dmitry Medvedev, pada Selasa (24/2).
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengonfirmasi bahwa serangan semalam itu merupakan serangan gabungan yang dirancang untuk menyebabkan kerusakan maksimal pada sektor energi Ukraina.
Angkatan Udara Ukraina melaporkan 129 drone Rusia teridentifikasi dalam serangan tersebut, dengan 112 di antaranya berhasil ditembak jatuh atau dinetralisir.