Di tengah derasnya informasi dan promosi keuangan di ruang digital, kemampuan untuk berhenti sejenak dan mempertanyakan sebelum mengambil keputusan mungkin menjadi salah satu bentuk literasi yang paling penting. Pada akhirnya, tingginya tingkat literasi finansial sebesar 73,22 persen patut diapresiasi. Angka tersebut menunjukkan bahwa generasi muda semakin sadar bahwa masa depan membutuhkan perencanaan. Namun, kita tidak boleh berhenti pada perayaan statistik. Literasi finansial seharusnya menjadi pintu masuk untuk membangun ketahanan, bukan alasan untuk menyerahkan seluruh risiko ekonomi kepada individu.
Kampus perlu membekali mahasiswa dengan kecakapan finansial sebagai bagian dari kecakapan hidup. Industri keuangan perlu menyediakan layanan dan perlindungan yang sesuai dengan pola pendapatan generasi muda yang semakin beragam. Dunia usaha perlu memikirkan perubahan pola kerja tanpa mengabaikan kepastian dan perlindungan pekerja. Sementara itu, negara memiliki tanggung jawab yang lebih mendasar: memastikan pertumbuhan ekonomi juga menghasilkan kesempatan kerja yang layak dan memungkinkan generasi muda membangun kehidupan yang dapat direncanakan.