Beranda Kolom MPLS Ramah 2026: Mengembalikan Sekolah sebagai Rumah Kedua Anak

MPLS Ramah 2026: Mengembalikan Sekolah sebagai Rumah Kedua Anak

MPLS harus menjadi ruang menumbuhkan harapan, bukan ketakutan; membangun persaudaraan, bukan senioritas; serta menghadirkan kegembiraan, bukan tekanan.

0
Istimewa

Epstein (2018) menjelaskan bahwa keterlibatan keluarga dalam pendidikan terbukti meningkatkan motivasi belajar, kedisiplinan, serta keberhasilan akademik peserta didik. Karena itu, komunikasi antara sekolah dan orang tua perlu dimulai sejak pelaksanaan MPLS, bukan ketika muncul persoalan.

Bagi sekolah kejuruan, sinergi tersebut juga dapat diperluas dengan melibatkan dunia usaha dan dunia industri sebagai mitra strategis dalam mengenalkan budaya kerja, etika profesi, dan wawasan karier kepada peserta didik sejak awal.

Momentum Membangun Budaya Sekolah

MPLS Ramah 2026 bukan sekadar perubahan nama program, melainkan transformasi cara pandang terhadap pendidikan. Orientasi sekolah tidak boleh lagi dipahami sebagai tradisi tahunan yang bersifat seremonial, melainkan sebagai fondasi pembentukan budaya sekolah yang positif.

Sekolah yang berhasil menyambut peserta didik dengan penuh penghormatan akan lebih mudah membangun budaya belajar yang sehat. Sebaliknya, kesan negatif pada hari-hari pertama dapat memengaruhi keterikatan siswa terhadap sekolah dalam jangka panjang.

Kita memiliki tanggung jawab moral untuk menjadikan setiap peserta didik merasa diterima sebagai bagian dari keluarga besar sekolah. MPLS harus menjadi ruang menumbuhkan harapan, bukan ketakutan; membangun persaudaraan, bukan senioritas; serta menghadirkan kegembiraan, bukan tekanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here