Presiden Amerika Serikat Donald Trump masih dapat mengeluarkan perintah untuk melakukan serangan terhadap Iran, dengan situasi di kawasan yang tetap bergejolak di tengah jeda dalam kampanye pengeboman.
Para pengunjuk rasa memegang poster saat mengikuti pawai May Day di Los Angeles, California, Amerika Serikat, pada 1 Mei 2026. (Carapandang/Xinhua/Qiu Chen)
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei berbicara dalam konferensi pers mingguan di Teheran, Iran, pada 23 Juni 2026. (Xinhua/Shadati)
Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi pada Sabtu (25/7) telah mendesak Uni Eropa (EU) untuk melakukan tindakan tegas kepada Ukraina yang telah menyerang kapal komersil Iran di Laut Kaspia.
Militer Iran telah mempersiapkan berbagai skenario untuk menghadapi kemungkinan serangan Amerika Serikat, termasuk invasi darat, demikian disampaikan seorang sumber militer Iran kepada RIA Novosti yang dipublikasi pada Kamis
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan pihaknya telah menyerang pusat data milik raksasa perdagangan AS, Amazon, di Bahrain sebagai tanggapan atas serangan Amerika Serikat terhadap lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Darkhovin.
Qatar, Mesir, Pakistan, dan sejumlah mediator regional lainnya mengajukan proposal gencatan senjata selama 10 hari kepada Amerika Serikat dan Iran, demikian dilaporkan Axios mengutip sejumlah sumber.
Pemerintah Iran mengancam akan melancarkan "langkah yang tepat" untuk merespons serangan Amerika Serikat terhadap sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang masih dibangun di Provinsi Khuzestan.
Organisasi Energi Atom Iran pada Minggu menyatakan bahwa serangan Amerika Serikat menargetkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Darkhovin, yang masih dalam tahap pembangunan di wilayah barat daya Iran.