Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei, mengeluarkan pernyataan tegas pada Kamis (30/4/2026) yang menandai dimulainya "babak baru" untuk kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Pernyataan keras ini disampaikan Merz dalam pidatonya di Bundestag, Selasa (28/4/2026), sebagai respons terhadap eskalasi ketegangan AS-Iran pasca penolakan Washington terhadap proposal perdamaian Teheran.
Kepastian itu datang setelah The Gunners tersingkir dari ajang Piala FA usai dikalahkan tim Championship, Southampton, dengan skor 2-1 pada babak perempat final, Sabtu (4/4/2026) malam WIB.
Pemungutan suara di ibu kota Naypyidaw ini merupakan langkah terakhir dalam transisi dari pemerintahan junta ke pemerintahan semi-sipil yang selama ini dijanjikan.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei, mengeluarkan pernyataan tegas pada Kamis (30/4/2026) yang menandai dimulainya "babak baru" untuk kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Pemimpin dari sejumlah negara Eropa menyatakan keprihatinan mereka terhadap serangan yang menyebabkan gugurnya personel TNI yang tergabung dalam Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL)
Paus Leo XIV dalam misa Minggu Palma di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Minggu (29/3), mengecam para pemimpin yang melancarkan perang dan disebutnya memiliki "tangan penuh darah".
Dalam unggahan di media sosial X pada Selasa (24/3/2026), Macron menyatakan bahwa pembicaraan tersebut membahas upaya de-eskalasi dan pentingnya menghentikan serangan di kawasan.
Orang-orang mengikuti aksi unjuk rasa menentang serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran di Teheran, Iran, pada 4 Maret 2026. (Carapandang/Xinhua/Shadati)
Soal kepemimpinan tak pernah sunyi dari pembahasan, mulai dari obrolan santai hingga forum formal seperti seminar dan bedah buku. Saat ini, dunia bahkan tampak berada dalam krisis kepemimpinan yang akut
Saat ini dunia tengah bergelut dengan ketimpangan ekonomi yang kian lebar. Di tengah hiruk-pikuk teori kapitalisme dan sosialisme, sejarah Islam menyimpan satu potret kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz , yang nyaris mustahil jika tidak benar-benar tercatat dalam tinta emas sejarah: sebuah masa di mana kemiskinan berhasil dihapuskan hanya dalam waktu kurang dari 2,5 tahun saja.