Menanggapi situasi tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa peristiwa ini menunjukkan tidak ada solusi militer untuk krisis politik dan menyebut "Project Freedom adalah Project Deadlock".
Tudingan ini langsung membantah klasi resmi dari Komando Pusat AS (CENTCOM) yang sebelumnya menyatakan bahwa pihaknya menargetkan enam kapal cepat yang dimiliki Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah tidak berencana mengenakan pajak terhadap kapal-kapal yang melintas di perairan Selat Malaka. Ia menyampaikan klarifikasi tersebut untuk meluruskan kabar yang menyebut dirinya mengusulkan adanya pemungutan tarif di wilayah strategis tersebut
Iran menyatakan Selat Hormuz akan ditutup sampai Amerika Serikat mencabut blokade terhadap kapal dan pelabuhan Iran, yang dinilai Teheran sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Berdasarkan laporan badan keamanan maritim perdagangan Inggris (UKMTO), sebuah kapal tanker dilaporkan ditembaki oleh dua kapal perang Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Foto yang dirilis pada 21 Juli 2019 ini menunjukkan kapal tanker minyak Inggris Stena Impero dikelilingi oleh perahu cepat Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) Iran di Selat Hormuz, Iran. (Carapandang/Xinhua/ISNA/Morteza Akhoundi)
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam pernyataannya pada Rabu (8/4/2026) menegaskan bahwa perjalanan aman melalui jalur vital energi dunia tersebut hanya dimungkinkan melalui koordinasi dengan militer Iran serta dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis yang ada.