Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei, mengeluarkan pernyataan tegas pada Kamis (30/4/2026) yang menandai dimulainya "babak baru" untuk kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Pemimpin dari sejumlah negara Eropa menyatakan keprihatinan mereka terhadap serangan yang menyebabkan gugurnya personel TNI yang tergabung dalam Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL)
Paus Leo XIV dalam misa Minggu Palma di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Minggu (29/3), mengecam para pemimpin yang melancarkan perang dan disebutnya memiliki "tangan penuh darah".
Dalam unggahan di media sosial X pada Selasa (24/3/2026), Macron menyatakan bahwa pembicaraan tersebut membahas upaya de-eskalasi dan pentingnya menghentikan serangan di kawasan.
Orang-orang mengikuti aksi unjuk rasa menentang serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran di Teheran, Iran, pada 4 Maret 2026. (Carapandang/Xinhua/Shadati)
Soal kepemimpinan tak pernah sunyi dari pembahasan, mulai dari obrolan santai hingga forum formal seperti seminar dan bedah buku. Saat ini, dunia bahkan tampak berada dalam krisis kepemimpinan yang akut
Dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan sesaat setelah tengah malam waktu setempat, Majelis Ahli yang beranggotakan 88 ulama terkemuka itu mengumumkan penunjukan Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai pemimpin ketiga dalam sejarah Iran sejak revolusi 1979.
Para pekerja medis berpartisipasi dalam unjuk rasa di depan sebuah rumah sakit yang rusak akibat serangan Amerika Serikat-Israel, di Teheran, Iran, pada 7 Maret 2026. (Xinhua/Shadati)
Presiden Iran, ketua pengadilan, dan anggota Dewan Wali Iran akan menjalankan tugas Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei yang gugur dalam serangan Amerika Serikat dan Israel, Sabtu, kata Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Mokhber.
Perdana Menteri (PM) Greenland Jens-Frederik Nielsen mengatakan pada Minggu (22/2) bahwa wilayah otonom Denmark itu tidak tertarik menerima kapal rumah sakit Amerika Serikat (AS)