Fasilitas mewah tersebut didapatkan dari Ketua Umum Partai Hanura, Oesman Sapta Odang (OSO), saat kunjungan kerja ke Sulawesi Selatan pada 15 Februari 2026.
Sandi ini menjadi fondasi penting dalam pengiriman pesan jarak jauh melalui telegraf dan kemudian digunakan luas dalam dunia pelayaran, militer, hingga komunikasi darurat.
Saat ini, dana tunggu hunian senilai Rp1,8 juta per KK telah diberikan kepada pengungsi yang tinggal di luar tenda, seperti di gedung pemerintah, rumah ibadah, maupun lokasi pengungsian mandiri.
Kebijakan tersebut diambil untuk memastikan pasien dengan penyakit berat, seperti jantung, kanker, stroke, dan gagal ginjal, tidak kehilangan akses pengobatan di tengah proses verifikasi data.
NU berdiri saat kondisi bangsa yang masih terjajah, miskin, dan minim pendidikan. Namun, para ulama dan kiai saat itu memiliki kesadaran tinggi terhadap nasib bangsa, rakyat, dan umat.
Selain membuat hingar-bingar, pasal yang sama juga menjerat orang yang membuat seruan atau tanda bahaya palsu, seperti berteriak "kebakaran" padahal tidak terjadi.
Di Jakarta Barat, warga Kelurahan Kamal mengungsi di Masjid Al Falah dengan 700 jiwa dari 500 KK, sementara warga Kelurahan Tegal Alur mengungsi di rumah susun sebanyak 130 jiwa dari 30 KK.
Ribuan penumpang tiba menggunakan bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) di Terminal Bus Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada arus balik Natal dan Tahun Baru 2026 (Nataru).